Kota Bukittinggi yang dikenal dengan udaranya yang sejuk sering kali menjadi pusat solidaritas di wilayah Sumatera Barat. Namun, saat bencana melanda daerah-daerah di ketinggian atau wilayah yang terdampak cuaca ekstrem, suhu udara yang rendah menjadi tantangan tambahan bagi para korban. Melalui gerakan Bukittinggi Berbagi Mahasiswa BAPOMI Kirim Bantuan Selimut ke Lokasi Dingin, para mahasiswa yang tergabung dalam BAPOMI menunjukkan kepekaan mereka terhadap kondisi lingkungan para pengungsi. Mereka menyadari bahwa bantuan pangan saja tidak cukup ketika warga harus bermalam di tenda darurat dengan suhu yang menusuk tulang.
Inisiatif ini dimulai ketika para mahasiswa BAPOMI melihat laporan cuaca dan kondisi di lapangan yang menunjukkan penurunan suhu drastis di area bencana. Sebagai kaum intelektual yang peduli, mereka segera mengorganisir penggalangan dana khusus untuk pengadaan perlengkapan penghangat tubuh. Mahasiswa melakukan mobilisasi massa di sekitar Jam Gadang dan pusat-pusat perbelanjaan untuk menjaring kepedulian masyarakat Bukittinggi. Semangat mereka tidak luntur meski harus menghadapi cuaca yang juga tidak menentu, demi memastikan bahwa bantuan dapat segera terkumpul dan dikirimkan secepat mungkin.
Fokus utama dari misi kemanusiaan ini adalah untuk segera kirim bantuan yang paling mendesak bagi warga yang kehilangan tempat tinggal. Mahasiswa memilih untuk memberikan bantuan yang bersifat proteksi terhadap kesehatan fisik warga di malam hari. Proses pengumpulan bantuan ini dilakukan dengan ketat, memastikan setiap barang yang didonasikan dalam kondisi baru atau sangat layak pakai. Mahasiswa ingin memastikan bahwa bantuan yang dikirimkan benar-benar memberikan rasa nyaman dan aman bagi para korban yang sedang berjuang melawan dinginnya malam di pengungsian.
Jenis barang yang menjadi prioritas utama dalam aksi ini adalah penyediaan selimut dalam jumlah besar. Selain selimut tebal, mahasiswa juga menyertakan jaket, kaus kaki, dan kain sarung dalam paket bantuan mereka. Kebutuhan akan penghangat tubuh ini sangat krusial untuk mencegah munculnya penyakit hipotermia atau gangguan pernapasan, terutama bagi bayi dan orang lanjut usia. Mahasiswa Bukittinggi secara teliti membungkus bantuan tersebut dengan plastik kedap air agar tetap kering saat didistribusikan melalui medan yang mungkin masih diguyur hujan deras.