Kota Bukittinggi dengan ikon Jam Gadang yang legendaris selalu menjadi pusat gravitasi bagi wisatawan dan masyarakat lokal di Sumatera Barat. Namun, di balik keramaian tersebut, sekelompok mahasiswa kreatif melihat peluang untuk menyebarkan nilai-nilai kebaikan melalui medium visual yang modern. Melalui inisiatif desain grafis dakwah, mereka menyelenggarakan sebuah pelatihan luar ruangan yang menyasar para pemuda dan aktivis masjid setempat. Tujuan utamanya adalah untuk mengubah cara pandang masyarakat bahwa dakwah tidak hanya bisa dilakukan di atas mimbar, tetapi juga melalui layar gawai dengan estetika yang memikat mata.
Lahirnya workshop kreatif ini didasari oleh realitas bahwa media sosial saat ini didominasi oleh konten visual. Sayangnya, konten-konten positif sering kali kalah saing karena dikemas dengan desain yang kurang menarik atau ketinggalan zaman. Mahasiswa yang memiliki keahlian di bidang komunikasi visual mencoba membagikan ilmu mereka tentang prinsip dasar desain, pemilihan tipografi, hingga psikologi warna dalam menyampaikan pesan religius. Di bawah bayang-bayang Jam Gadang, para peserta diajarkan bagaimana menyusun satu slide edukasi yang ringkas namun memiliki dampak emosional yang kuat bagi pembacanya.
Fokus utama dalam pengajaran ini adalah orisinalitas dan kejujuran dalam berkarya. Mahasiswa menekankan bahwa dakwah digital memerlukan identitas visual yang konsisten agar bisa membangun kepercayaan audiens. Para peserta, yang sebagian besar adalah pelajar dan mahasiswa lokal, dibekali dengan penguasaan aplikasi desain berbasis ponsel pintar yang mudah diakses namun tetap profesional. Inisiatif mahasiswa di sini adalah menurunkan hambatan teknis agar siapa pun yang memiliki niat baik bisa berkontribusi dalam mengisi ruang digital dengan narasi-narasi yang menyejukkan.
Selama workshop berlangsung, suasana interaktif sangat terasa. Peserta diminta untuk membuat satu poster digital bertema “Ramadan di Ranah Minang” yang kemudian dikoreksi bersama secara langsung. Proses kreatif ini melatih ketajaman mata peserta dalam melihat detail dan cara menyusun informasi agar tidak tumpang tindih. Penggunaan elemen-elemen lokal dalam desain juga sangat ditekankan, guna menjaga kearifan budaya Bukittinggi tetap lestari di tengah arus modernisasi desain global. Ini merupakan strategi dakwah yang cerdas, di mana nilai agama dan budaya lokal berpadu dalam balutan teknologi.