Kota Bukittinggi sebagai salah satu pusat pendidikan tinggi di Sumatera Barat memiliki intensitas kegiatan olahraga mahasiswa yang sangat dinamis. Namun, di balik semangat kompetisi yang membara, aspek keselamatan fisik sering kali luput dari perhatian utama. Badan Pembina Olahraga Mahasiswa Indonesia (BAPOMI) Bukittinggi menyadari bahwa satu cedera fatal dapat mengakhiri karier cemerlang seorang atlet muda sebelum waktunya. Oleh karena itu, sebuah inisiatif penting dalam bentuk workshop pencegahan dan Mitigasi Risiko Cedera Pertandingan digelar untuk membekali para pelatih, ofisial, dan atlet mahasiswa dengan pengetahuan medis olahraga yang praktis dan aplikatif.
Dalam pelaksanaan Workshop tersebut, narasumber dari praktisi fisioterapi dan dokter olahraga memaparkan bahwa sebagian besar cedera dalam pertandingan mahasiswa disebabkan oleh kurangnya pemahaman tentang pemanasan yang spesifik serta manajemen kelelahan. BAPOMI Bukittinggi menekankan bahwa persiapan fisik bukan hanya soal kekuatan otot, tetapi juga tentang fleksibilitas dan kesiapan sistem saraf dalam merespons gerakan eksplosif. Para peserta diajarkan teknik-teknik baru dalam melakukan observasi mandiri terhadap kondisi tubuh sebelum masuk ke arena pertandingan. Pengetahuan ini sangat krusial agar atlet tidak memaksakan diri saat tubuh sudah memberikan sinyal peringatan dini.
Fokus utama pada aspek Mitigasi Risiko Cedera Pertandingan mencakup standarisasi peralatan perlindungan diri di setiap cabang olahraga. BAPOMI menemukan bahwa banyak Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) yang masih menggunakan peralatan pelindung yang sudah tidak layak pakai atau tidak sesuai standar federasi. Dalam workshop ini, ditegaskan bahwa pengadaan alat pelindung yang berkualitas bukanlah pemborosan, melainkan investasi untuk menjaga aset paling berharga, yaitu kesehatan atlet. Dengan mitigasi yang tepat, frekuensi cedera jangka panjang dapat ditekan secara signifikan, sehingga masa pakai prestasi seorang atlet mahasiswa dapat bertahan lebih lama hingga mereka menyelesaikan studi di perguruan tinggi.
Penanganan pertama pada Cedera di lapangan juga menjadi materi inti yang dipraktikkan secara langsung oleh para peserta. Sering kali, kesalahan dalam memberikan pertolongan pertama justru memperparah kondisi luka atau robekan ligamen pada atlet. BAPOMI Bukittinggi memperkenalkan protokol internasional dalam penanganan trauma olahraga ringan hingga berat. Setiap ofisial tim diwajibkan memiliki kotak pertolongan pertama yang lengkap dan memahami cara penggunaan alat-alat medis dasar. Kecepatan dan ketepatan respons medis di pinggir lapangan adalah faktor penentu apakah seorang atlet bisa segera pulih atau harus menjalani operasi besar yang memakan waktu lama.