Ketersediaan peralatan olahraga yang memadai sering kali menjadi kendala utama bagi mahasiswa yang ingin menekuni bidang atletik maupun permainan tim. Harga perlengkapan baru yang terus melambung tinggi di pasaran terkadang membuat minat mahasiswa untuk berlatih menjadi surut. Menyadari tantangan finansial yang dihadapi oleh para atlet muda di wilayah Sumatera Barat, organisasi pembina olahraga mahasiswa setempat mengambil langkah inovatif. Kini, akses untuk mendapatkan perlengkapan pendukung prestasi menjadi lebih mudah melalui peluncuran sebuah wadah ekonomi kreatif digital. Program untuk beli alat olahraga murah ini dirancang khusus untuk mempertemukan kebutuhan mahasiswa dengan ketersediaan barang berkualitas.
Platform yang dirilis oleh BAPOMI Bukittinggi ini berfungsi sebagai pasar digital (marketplace) internal yang dikhususkan bagi komunitas kampus. Di dalam platform ini, mahasiswa dapat menemukan berbagai perlengkapan, mulai dari sepatu lari, raket bulu tangkis, seragam tim, hingga alat beban, baik dalam kondisi baru maupun bekas layak pakai. Konsep ekonomi sirkular ini memungkinkan atlet yang sudah lulus atau yang ingin berganti cabang olahraga untuk menjual peralatan lama mereka kepada adik tingkat dengan harga yang jauh lebih terjangkau. Hal ini menciptakan ekosistem saling bantu antar mahasiswa yang memiliki semangat juang yang sama di lapangan.
Keunggulan dari platform jual beli ini adalah adanya sistem verifikasi internal yang menjamin keamanan transaksi. Karena penggunanya terbatas pada kalangan mahasiswa dan civitas akademika di wilayah Bukittinggi, risiko penipuan yang sering terjadi di media sosial umum dapat diminimalisir secara signifikan. Setiap penjual diwajibkan menyertakan foto asli dan deskripsi kondisi barang secara jujur. Selain itu, adanya fitur testimoni dari sesama atlet memberikan kepercayaan tambahan bagi pembeli bahwa alat yang mereka beli memang masih layak digunakan untuk menunjang performa latihan yang berat.
Inisiatif dari wilayah Bukittinggi ini juga bertujuan untuk mendorong kemandirian ekonomi di tingkat Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM). Selain individu, pengurus organisasi olahraga di tiap kampus juga diperbolehkan membuka “toko digital” di platform ini untuk menjual merchandise resmi klub atau menyewakan peralatan olahraga yang mereka miliki. Pendapatan yang diperoleh dari aktivitas ini dapat digunakan kembali untuk membiayai operasional tim atau biaya pendaftaran turnamen luar daerah. Dengan demikian, olahraga tidak lagi menjadi beban biaya yang berat, melainkan mampu menciptakan perputaran dana yang produktif bagi organisasi.